Chapter V

May 11th, 2007 by donnydonat

secangkir kopi di sore ini mungkin akan sedikit memberi rasa segar di badan dan

otak. tapi siapa yang bisa menjamin? tidak ada seorangpun yang bisa menjamin bahwa

kopi yang aku pilih adalah yang terbaik untukku sore ini. ya, tidak ada seorang

pun yang bisa menjamin. namun, ketika yang tersedia hanyalah satu mug kopi pahit

dan kental, apa akan ku minum juga?
sepertinya iya. i think, i don’t have that much options.
aku ingin tertawa, karena memang hanya satu mug kopi ini yang aku punya. pahit,

kental dan hitam seperti kulitku yang selalu terbakar matahari kota ini.
dan kucicip kopi dalam mug itu…ya, pahit, kental, dan panas..selera beberapa

orang mungkin, tapi yang jelas bukan seleraku. aku tidak begitu suka kopi pahit,

aku butuh sedikit gula dalam kopi ini. tapi yang ada sekarang dan tak bisa kutolak

adalah kopi ini. ku minum dua teguk kopi dalam mug itu. segar dan pahit bercampur.
dan aku tersenyum…
mungkin jalan yang ditempuh manusia memang harus seperti itu. pahit di awal dan

segar di akhir…mungkin memang harus seperti itu…mungkin…
tidak ada yang tahu..
hanya kamu yang tahu, karena kamu yang berjalan di jalanmu sendiri…

Chapter IV

February 14th, 2007 by donnydonat

Di luar hujan deras, dan Nadya belum juga kunjung pulang.

Deras sekali hujan kali ini, bahkan bunyi air jatuh di atap terdengar seperti kerikil yang ditumpahkan dari langit, sama sekali tidak terdengar seperti bunyi air yang menyentuh permukaan atap rumah.
Sudah kuduga sebenarnya bahwa akan turun hujan sederas dan selebat ini tadi siang. Tepat seperti yang kukatakan pada Nadya di telepon tadi pada waktu jam istirahat makan siang. Dan seperti biasa, Nadya tidak percaya waktu aku bilang bahwa akan hujan malam ini.
Mungkin saat ini dia sedang menyadari ketidakpercayaannya atas ucapanku tadi siang di telepon.

Ah sudahlah, bukan itu yang membuatku khawatir sekarang, melainkan Nadya yang belum juga kunjung pulang, meski hari semakin larut.

Ya, mungkin dia masih menunggu hujan reda. Dan dia lebih memilih untuk tetap tinggal di kantor dan mengerjakan apapun untuk membunuh waktu.

Memang, banyak hal yang bisa dilakukannya di kantor. Mulai dari menelepon ibunya berjam-jam dengan telepon kantor, browsing, atau hanya sekedar chatting dengan teman-teman satu SMA-nya dulu, atau bahkan sekedar nongkrong di lobby gedung kantornya yang mempunyai mini bar dan sofa-sofa empuk untuk diduduki.

Sebuah tempat yang sangat sempurna memang untuk wanita secantik dan secerdas dia. Orang yang tepat di tempat yang tepat.

Aku jadi teringat ketika pertama kali Nadya mendapatkan panggilan kerja dari kantornya sekarang. Segera dia menanyakan pendapatku, tentang bakal pekerjaannya itu. Setujukah aku jika dia mengambil pekerjaan itu, keberatankah aku jika dia bekerja, bermasalahkah aku dengan bakal konsekuensi dari pekerjaannya itu, dan masih banyak lagi.

Secara jujur aku menjawab bahwa sebenarnya aku keberatan, dan raut mukanya seketika berubah masam, seperti seorang anak kecil yang batal pergi ke kios es krim kesukaan. Tapi saat itu juga aku berpikir, tidak adil ketika aku bisa melakukan pekerjaan apapun yang ingin kulakukan tanpa memberikan dia kesempatan yang sama. Di satu sisi, aku juga ingin dia berkembang dan belajar, sehingga pikirannya menjadi lebih terbuka. Maka segera aku menimpali ketidaksetujuanku dengan berkata pada Nadya bahwa jika memang itu yang ingin dia lakukan, lakukanlah. Aku menerima segala keputusan yang dia ambil dan mendukung sepenuhnya, dan yang lebih penting, aku menerima segala konsekuensi yang muncul dari keputusannya itu. Hal itu aku lakukan semata-mata karena aku tahu bahwa aku benar-benar mencintainya.

Di luar hujan deras, dan Nadya belum juga kunjung pulang.

Hawa dingin mulai muncul disekitarku, membuat perut yang sedikit membuncit karena kurang olahraga ini semakin buncit karena terisi angin yang dibawa hujan petang ini.
Kuelus-elus perutku, sambil berulangkali kupencet tombol redial untuk mencoba mencari tahu keadaan Nadya saat ini. Yang ada hanya jawaban dari sebuah mesin yang mengatakan bahwa nomor yang aku tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Ponselnya mati.
Suatu hal yang di luar dari biasanya.

Ya, Nadya tidak pernah mematikan ponselnya. Paling Nadya hanya mengaktifkan profile silent pada ponselnya ketika dia tidur. Ponselnya tidak pernah mati. Kecuali jika kami sedang berada di gereja tentunya. Biasanya memang Nadya yang menghubungiku untuk memberikan kabar terakhirnya. Karena mungkin dia tahu, bahwa dialah yang lebih sering berpeluang untuk mempunyai pulsa dibandingkan aku.

Tapi akhir-akhir ini kebiasaan itu mulai berkurang. Nadya mulai jarang untuk menghubungiku terlebih dahulu. Yah, mungkin dia lelah. Mungkin dia terlalu lelah bekerja hingga kadang pun dia sering lupa akan hal-hal kecil tapi sentimentil. Hal-hal yang dulu jadi kebiasaan kami berdua ketika akan menyudahi pembicaraan di telepon, misalnya. Yah, mungkin dia lelah karena pekerjaan dan rutinitasnya yang melulu seperti itu. Semoga bukan lelah mencintaiku, karena aku pun tidak akan pernah lelah untuk selalu mencintainya dengan segala apa yang aku miliki.

Untung saja, akhir-akhir ini, peluangku untuk dapat menghubunginya terlebih dahulu membesar. Tapi kenapa justru ketika aku ingin menghubunginya sekarang, yang aku dengar hanyalah suara mesin.
Kuambil kembali ponselku dan kutekan nomor kantornya. Tidak ada jawaban. Sungguh sangat berbeda dengan tempatku bekerja sekarang yang hampir tidak akan pernah sepi dari manusia. Mungkin semua orang di kantornya sudah pulang.

Betapa teraturnya hidup mereka.

Bangun tidur, mandi, sarapan, gosok gigi, berangkat bekerja, makan siang, bekerja lagi, pulang ke rumah, mampir makan malam dalam perjalanan ke rumah, sampai di rumah, mandi, berangkat tidur, dan hari keramat bagi mereka adalah Sabtu dan Minggu, dimana mereka bisa merasakan nikmatnya bangun ketika matahari sudah meninggi. Indah di satu sisi, mematikan di sisi yang lain. Pernah ada seorang teman yang bercerita kepadaku, betapa dia ingin rasanya merasakan bangun pukul 7 di pagi hari dan pukul 8 dia sudah bisa berada di kantor. Betapa irinya dia atas pekerjaan yang aku lakukan, meskipun dia tahu bahwa pekerjaanku hanya menghasilkan setengah dari uang yang dia bawa pulang setiap bulannya. Dia bilang, betapa bahagianya aku bisa selalu merasa hidup dengan pekerjaan yang aku lakukan. Aku hanya tersenyum dan berkata bahwa masing-masing orang berhak untuk mempunyai pilihan dan hidup dengan pilihannya tersebut. Masalah bahagia atau tidak tergantung bagaimana menyikapinya. Selama manusia tidak pernah menyerah untuk berusaha, pasti akan selalu ada jalan baginya.

Kunyalakan lagi rokok kretekku yang mati karena terlalu lama kutinggal di atas asbak. Sekali lagi aku mencoba membuat panggilan, dan hanya nada panggil yang aku dengar dari seberang sana. Benar-benar sudah tidak ada orang di sana. Sudah tidak ada kehidupan terjadi di sana sampai Senin pukul 8 pagi.
Pikiranku kembali menjelajah, mencari tahu kemungkinan di mana Nadya berada saat ini. Mencoba menggambarkan keadaan di sana ketika hujan dan kira-kira apa yang akan dilakukan Nadya ketika berhadapan dengan hujan.

Di luar hujan deras, dan Nadya belum juga kunjung pulang.

Aku kembali teringat percakapan terakhirku dengan Nadya di telepon tadi siang. Sempat terucap dari bibirnya bahwa dia berniat untuk mencari sesuatu yang lebih dari pekerjaannya sekarang. Mungkin Nadya merasa bahwa apa yang dia terima saat ini tidak cukup untuk dirinya.

Aku hanya tersenyum sambil mengiyakan keinginannya itu. Karena setelahnya, aku teringat akan percakapanku dengan seorang teman di negeri seberang tentang apa itu puas dan bahagia. Bagi dia dan pasangannya, berbahaya kalau mendasarkan hubungan hanya berfokus pada yang terbaik. Mereka saling memilih satu dengan yang lain tidak atas dasar yang terbaik. Karena, terbaik itu relative dan unreachable, karena diatas yang baik akan selalu ada yang terbaik. Bagi dia, yang terbaik adalah berusaha menjalani apapun pilihannya, dan berusaha menikmatinya seumur hidup, karena untuk memperoleh yang terbaik, will never be completed till we die.

Nadya, andai saja kamu ada dan terlibat pembicaraan kami waktu itu, mungkin pikiranmu akan sedikit lebih terbuka, tentang bagaimana memaknai apa yang disebut hidup.

Nadya, I don’t want to spend the rest of my life, keep wondering what if…

Di luar hujan deras, dan Nadya belum juga kunjung pulang.

Nadya, kamu dimana?
Nadya, kenapa kamu belum juga kunjung pulang?

Lihat, sayur lodeh yang kau masak tadi pagi, sudah aku hangatkan kembali untukmu….

Chapter III

January 19th, 2007 by donnydonat

Aku tiba2 terbangun lagi dengan seorang wanita berada
disampingku. We both naked….what did I do?

Aku menyesal…kenapa aku tidak sadar ketika aku bercinta
dengannya. Sial!!

Sejenak kupandangi dia…begitu damai tidurnya.mungkin
kelelahan. Ehmm…berarti aku cukup memuaskannya….Aku masih hebat, meskipun aku
tidak sempat merasakannya.

Ya begitu juga dengan keadaan saat ini, aku masih hebat,
bahkan paling tidak aku tidak dipandang sebelah mata oleh orang2 disekitarku,
meskipun beberapa orang yang mengaku adalah kawanku sudah menusukku berulang
kali di depan orang2.

Aku maklum, dia merasa terancam. Nyawanya berada
ditanganku…

 

Masih sehebat itukah aku ketika aku sudah tak memegang
senjata, bahkan untuk membela diriku sendiri, aku dianngap ancaman bagi beberapa
orang.

He…he…he…

 

Badannya bersih, kulitnya sawo matang, tidak putih,
tipikal gadis Indonesia biasa. Aku suka. Karena bagiku gadis2 dengan kulit
putih hanya akan enak dilihat saja. Yah meski kata kebanyakan orang, cewek
dengan kulit putih bisa memperbaiki keturunan. Yah, memang ada benarnya. Secara
logika dengan ilmu yang aku dapatkan ketika SMA, secara genetis ada benarnya.
Tapi, kalau mereka aslinya hitam, dan mereka menjadi putih dengan bantuan
bleaching atau pemutih tubuh dengan merkuri yang laris di salon2 kecantikan itu
bagaimana? Apa mereka masih tetap bisa memperbaiki keturunanku. Tapi, segala
kemungkinan bisa terjadi, toh hidup penuh dengan kemungkinan. Dan aku adalah
salah satu kemungkinan yang bisa didapatkan oleh orang lain.

 

Dan Aku masih berbahaya…meskipun aku sengaja menarik
diriku supaya aku tidak membahayakan orang lain dan diriku sendiri. Yah..karena
aku masih hebat…

 

Sungguhkah? Aku tidak ingin dianggap berbahaya bagi
orang2..Aku ingin menjadi kawan mereka, rekan kerja, teman bercerita, teman
bercinta. Untuk yang terakhir hanya untuk wanita saja, maaf….yang jelas aku
tidak ingin menumpuk musuh dengan sengaja. Kecuali jika mereka memang
mendirikan posisinya menjadi musuhku, aku tidak peduli. Maaf, aku tak sengaja…

lost chapter - surat kerinduan

December 2nd, 2006 by donnydonat

dua hari yang lalu aku menemukan sebuah amplop di dekat komputerku, amplop itu tanpa nama yang dituju, tanpa nama pengirim, dan pastinya tanpa nama…
penasaran, aku buka surat itu begini isinya

"dear hunnie,

lama ga ketemu ternyata bikin kangen yah? mas disini baik-baik aja. moga-moga kamu juga baik-baik aja.
ternyata jauh jadi bikin mas makin tau arti kangen sebenernya.
ternyata jauh bikin mas banyak numpuk cerita neh.
ternyata jauh bikin mas suka ngiri klo ngliat orang pada pasang-pasangan.

aduh…gampang-gampang susah ya ternyata..
tapi mas tetep support keputusanmu buat tinggal disana kok..
toh itu buat kita juga nantinya.
toh klo udah jodoh, ga kan lari kemana.
itu kata orang lho…

say, klo mas lagi sendirian di kamar, sambil dengerin mp3 di winamp,
dalam terang lampu biru kesukaanku itu, mas jadi suka keinget waktu
kamu masih disini.

inget betapa tertibnya jam makan kamu.
inget betapa betenya kamu kalo mas ngaret.
inget betapa judesnya kamu tiba-tiba kalo mas boong.
inget betapa galaknya kamu ketika ngajakin buat ke gereja.
inget betapa sedihnya kamu kalo mas ga nepatin janji.
inget betapa bahagianya kamu kalo dikasih surprise.
inget betapa lucunya kamu kalo lagi becanda.
inget betapa manjanya kamu kalo lg pengen dipijitin.
inget betapa manisnya kamu kalo tertidur disamping mas.

ya…mas inget banget ma kamu..
pengen bisa ngrasain lagi seperti itu setiap hari..

ya..mas disini lagi kangen…
love you…"

ternyata sebuah surat yang berisi kerinduan yang menjadi-jadi dari seorang lelaki..
betapa beruntung dan sialnya dia dalam waktu yang bersamaan…..

Chapter II

March 27th, 2006 by donnydonat

Hujan….
Yah hujan di luar, aku tidak basah
Yang kurasa basah adalah dirinya
Dirinya yang memeluk atau entah membekapku karena aku hampir sulit untuk bernafas…..
Yang kurasa dingin di bagian kulitku yang bersentuhan dengan dirinya, kecuali tengkukku yang sesekali terasa hangat oleh nafasnya. Ya, nafasnya memburu seolah dia tidak ingin memberikanku kepada siapapun bahkan untuk diriku sendiri.
Hi..hi…hi…it sounds funny…
Aduh.. gila..anak ini benar-benar gila hingga aku harus sedikit mengeluarkan tenaga ekstra untuk melepaskannya dari diriku namun tetap meyakinkannya bahwa aku tetap akan berada di dekatnya hingga semuanya jelas…
Tunggu…apa yang tidak jelas?
Semuanya jelas ko?!

Kenapa aku tertular penyakit orang-orang itu? Penyakit yang rajin menyapa hampir setiap bagian waktu. BIKIN SUSAH DIRI SENDIRI….
Hey…BODOH!!!tidak perlu kau menyakiti dirimu sendiri.
Life is better without problems, but it isn’t it without them…
So be it…let the world turns upside down and you keep going all the way…

Jadi begini,….dari tadi kenapa selalu seperti ini?
Apa yang engkau inginkan dariku?
Aku ya seperti ini..
Tidak kurang tidak lebih, tapi kalau kau ingin aku melewati batasku, semuanya harus masuk akal bagiku…
Maka……………
Mari kita petakan dan kita pilah-pilah semuanya….
…………………………………………………………..
…………………………………………………………….
………………………………………………………………
…………………………………………………..
……………………………………………………………
…………………………………………….
…………………………………….
……………
…….
……….
………………………..
………………………………..
……………
………
…….
…….
…………
…………………….
……
……………………….
………….
Cukup…….
Semuanya sudah jelas bagiku…
Terima kasih…
Sekarang aku harus pergi…
Jadwalku begitu padat hari ini….
Maaf…
Sampai jumpa?!
Dimana celanaku?

I’ll see you when I see you, okay?

Hujan sudah reda, tapi mendung masih bercokol di atas kota ini…
Kota yang kubangun batu demi batu demi menyenangkan orang-orang disekitarku…

Hmmmm…
Kenapa selalu ribut dengan apa yang dipikir oleh orang lain?
Memangnya mereka peduli?
Syukurlah jika mereka peduli, karena akan sangat sulit menemukan orang yang peduli beberapa dekade terakhir ini….

Hey!!!
Kamu kemari…
Ini…untuk makan…

Chapter I

August 29th, 2005 by donnydonat

Ya kali ini aku terbangun dari alam sadarku untuk yang pertama. Semuanya begitu aneh dimataku. Semua terlihat layaknya gambar televisi di tahun 60an. Begitu abu-abu tapi tidak kuno. Mobil mewah keluaran tahun terakhir silih berganti lewat di depanku, billboard – billboard raksasa dengan lampu gemerlap menawarkan kenikmatan terlihat di berbagai sisi, jalan aspal yang halus tanpa lubang dan polisi tidur, dan kelap – kelip neon box penunjuk club malam menunjukkan betapa majunya jaman ini. Sial! Aku ada dimana? Bau ini, bau aspal yang baru saja tersiram hujan, khas. Aku tidak suka, tapi kadang aku merindukan bau ini ada di kotaku yang dulu. Tunggu! Darimana aku bisa tahu ini bukan kotaku? Ya jelas aku tahu. Di kotaku, semua begitu berwarna, banyak motor, ada becak, sepeda, ada bis

kota

dengan asap hitam seperti cumi – cumi yang berusaha menghilangkan jejak, spanduk dimana – mana, sampah visual berceceran udara panas sepanjang hari. Ya itu kotaku. Sedangkan ini, ini bukan kotaku. Di sini semuanya hitam putih, seperti komik di koran, dingin dan lembab. Ya hitam putih. Apa aku tiba –tiba menjadi buta warna? Tidak mungkin! Ketika kelas tiga SMA, aku sudah melakukan tes buta warna dan aku lulus, karena jika aku buta warna, aku tidak akan mungkin berani mendaftar masuk tehnik geologi di universitas negeri itu.

Aku masih mencoba meraba keberadaanku di tempat ini.

Aku berjalan menyusur trotoar yang juga basah, menyisir pinggiran pertokoan, diantara lapak - lapak kaki

lima

yang ditinggalkan penjualnya. Aneh. Kenapa cuma aku saja yang berada di jalan ini? Kemana orang – orang? Apakah ada jam malam disini? Atau mereka semua sedang belajar karena mengikuti anjuran jam belajar masyarakat yang mulai hilang dengungnya? Ehmm..jam belajar masyarakat. Aturan yang membuatku tidak bisa bercinta bersama kekasihku dahulu, karena dia kebetulan tinggal di rumah kontrakan bapak kepala desa yang kebetulan paling mendukung diberlakukannya jam belajar masyarakat. Menyebalkan. Ini jam berapa?

Aku berhenti di depan salah satu toko dengan etalase yang memajang sepasang manekin pria dan wanita yang mengenakan baju pengantin. Indah. Romantis. Semoga bukan menikah siri yang lagi in buat orang - orang yang bagiku adalah penghalalan kumpul kebo. Kasihan. Semoga mereka bahagia selamanya. Sayang, tidak terlihat apa – apa di dalam. Terlalu gelap. Hemat energi mungkin? Di kotaku hal itu sedang ngetrend. Sayang, jadinya salah kaprah.

Ketika aku hendak beranjak dari depan toko itu, langkahku terhenti. Mataku melihat hal yang tidak biasanya. Aku berubah! Aku bersepatu lars kulit, seperti koboi. Aku bercelana kulit hitam, seperti sales promotion girl yang waktu itu aku lihat di mall di kotaku, entah sedang menjajakan rokok atau dirinya. Kaos kutung hitam kesayanganku bergambar tribal di sisi kiri masih melekat di badanku. Dan sempurnalah aku karena aku menggunakan coat panjang dari kulit berwarna hitam seperti mafia – mafia hongkong yang aku lihat di vcd bajakan milik teman lamaku.

Aku berbeda! Ini bukan aku!

Masih mencoba mencerna apa yang terjadi selama beberapa menit ini, aku kembali berjalan hingga kudengar decit ban mobil berhenti disampingku. Aku berhenti. Dari balik pintu mobil panjang itu muncul sesosok wanita dengan coat panjang menghampiriku dengan cepat dan sebelum aku sadar dia menciumku dengan penuh hasrat. Ya, dia menciumku straight to my lips. Gila cewek ini.

Setelah menciumku, dia menarikku masuk ke dalam mobil. Hey! Semua terjadi begitu cepat. Aku tak bisa menolaknya. Otakku kacau. Kacau.

………………………………………………………………………………………….

when things go beyond your mind, you just have to let it flow

the Beginning

August 25th, 2005 by donnydonat

"ini adalah awal dari sebuah perjalanan di alam tak sadarku yang sebenarnya sudah dimulai sejak dua hari yang lalu…"