Archive for August, 2005

Chapter I

Monday, August 29th, 2005

Ya kali ini aku terbangun dari alam sadarku untuk yang pertama. Semuanya begitu aneh dimataku. Semua terlihat layaknya gambar televisi di tahun 60an. Begitu abu-abu tapi tidak kuno. Mobil mewah keluaran tahun terakhir silih berganti lewat di depanku, billboard – billboard raksasa dengan lampu gemerlap menawarkan kenikmatan terlihat di berbagai sisi, jalan aspal yang halus tanpa lubang dan polisi tidur, dan kelap – kelip neon box penunjuk club malam menunjukkan betapa majunya jaman ini. Sial! Aku ada dimana? Bau ini, bau aspal yang baru saja tersiram hujan, khas. Aku tidak suka, tapi kadang aku merindukan bau ini ada di kotaku yang dulu. Tunggu! Darimana aku bisa tahu ini bukan kotaku? Ya jelas aku tahu. Di kotaku, semua begitu berwarna, banyak motor, ada becak, sepeda, ada bis

kota

dengan asap hitam seperti cumi – cumi yang berusaha menghilangkan jejak, spanduk dimana – mana, sampah visual berceceran udara panas sepanjang hari. Ya itu kotaku. Sedangkan ini, ini bukan kotaku. Di sini semuanya hitam putih, seperti komik di koran, dingin dan lembab. Ya hitam putih. Apa aku tiba –tiba menjadi buta warna? Tidak mungkin! Ketika kelas tiga SMA, aku sudah melakukan tes buta warna dan aku lulus, karena jika aku buta warna, aku tidak akan mungkin berani mendaftar masuk tehnik geologi di universitas negeri itu.

Aku masih mencoba meraba keberadaanku di tempat ini.

Aku berjalan menyusur trotoar yang juga basah, menyisir pinggiran pertokoan, diantara lapak - lapak kaki

lima

yang ditinggalkan penjualnya. Aneh. Kenapa cuma aku saja yang berada di jalan ini? Kemana orang – orang? Apakah ada jam malam disini? Atau mereka semua sedang belajar karena mengikuti anjuran jam belajar masyarakat yang mulai hilang dengungnya? Ehmm..jam belajar masyarakat. Aturan yang membuatku tidak bisa bercinta bersama kekasihku dahulu, karena dia kebetulan tinggal di rumah kontrakan bapak kepala desa yang kebetulan paling mendukung diberlakukannya jam belajar masyarakat. Menyebalkan. Ini jam berapa?

Aku berhenti di depan salah satu toko dengan etalase yang memajang sepasang manekin pria dan wanita yang mengenakan baju pengantin. Indah. Romantis. Semoga bukan menikah siri yang lagi in buat orang - orang yang bagiku adalah penghalalan kumpul kebo. Kasihan. Semoga mereka bahagia selamanya. Sayang, tidak terlihat apa – apa di dalam. Terlalu gelap. Hemat energi mungkin? Di kotaku hal itu sedang ngetrend. Sayang, jadinya salah kaprah.

Ketika aku hendak beranjak dari depan toko itu, langkahku terhenti. Mataku melihat hal yang tidak biasanya. Aku berubah! Aku bersepatu lars kulit, seperti koboi. Aku bercelana kulit hitam, seperti sales promotion girl yang waktu itu aku lihat di mall di kotaku, entah sedang menjajakan rokok atau dirinya. Kaos kutung hitam kesayanganku bergambar tribal di sisi kiri masih melekat di badanku. Dan sempurnalah aku karena aku menggunakan coat panjang dari kulit berwarna hitam seperti mafia – mafia hongkong yang aku lihat di vcd bajakan milik teman lamaku.

Aku berbeda! Ini bukan aku!

Masih mencoba mencerna apa yang terjadi selama beberapa menit ini, aku kembali berjalan hingga kudengar decit ban mobil berhenti disampingku. Aku berhenti. Dari balik pintu mobil panjang itu muncul sesosok wanita dengan coat panjang menghampiriku dengan cepat dan sebelum aku sadar dia menciumku dengan penuh hasrat. Ya, dia menciumku straight to my lips. Gila cewek ini.

Setelah menciumku, dia menarikku masuk ke dalam mobil. Hey! Semua terjadi begitu cepat. Aku tak bisa menolaknya. Otakku kacau. Kacau.

………………………………………………………………………………………….

when things go beyond your mind, you just have to let it flow

the Beginning

Thursday, August 25th, 2005

"ini adalah awal dari sebuah perjalanan di alam tak sadarku yang sebenarnya sudah dimulai sejak dua hari yang lalu…"