Archive for February, 2007

Chapter IV

Wednesday, February 14th, 2007

Di luar hujan deras, dan Nadya belum juga kunjung pulang.

Deras sekali hujan kali ini, bahkan bunyi air jatuh di atap terdengar seperti kerikil yang ditumpahkan dari langit, sama sekali tidak terdengar seperti bunyi air yang menyentuh permukaan atap rumah.
Sudah kuduga sebenarnya bahwa akan turun hujan sederas dan selebat ini tadi siang. Tepat seperti yang kukatakan pada Nadya di telepon tadi pada waktu jam istirahat makan siang. Dan seperti biasa, Nadya tidak percaya waktu aku bilang bahwa akan hujan malam ini.
Mungkin saat ini dia sedang menyadari ketidakpercayaannya atas ucapanku tadi siang di telepon.

Ah sudahlah, bukan itu yang membuatku khawatir sekarang, melainkan Nadya yang belum juga kunjung pulang, meski hari semakin larut.

Ya, mungkin dia masih menunggu hujan reda. Dan dia lebih memilih untuk tetap tinggal di kantor dan mengerjakan apapun untuk membunuh waktu.

Memang, banyak hal yang bisa dilakukannya di kantor. Mulai dari menelepon ibunya berjam-jam dengan telepon kantor, browsing, atau hanya sekedar chatting dengan teman-teman satu SMA-nya dulu, atau bahkan sekedar nongkrong di lobby gedung kantornya yang mempunyai mini bar dan sofa-sofa empuk untuk diduduki.

Sebuah tempat yang sangat sempurna memang untuk wanita secantik dan secerdas dia. Orang yang tepat di tempat yang tepat.

Aku jadi teringat ketika pertama kali Nadya mendapatkan panggilan kerja dari kantornya sekarang. Segera dia menanyakan pendapatku, tentang bakal pekerjaannya itu. Setujukah aku jika dia mengambil pekerjaan itu, keberatankah aku jika dia bekerja, bermasalahkah aku dengan bakal konsekuensi dari pekerjaannya itu, dan masih banyak lagi.

Secara jujur aku menjawab bahwa sebenarnya aku keberatan, dan raut mukanya seketika berubah masam, seperti seorang anak kecil yang batal pergi ke kios es krim kesukaan. Tapi saat itu juga aku berpikir, tidak adil ketika aku bisa melakukan pekerjaan apapun yang ingin kulakukan tanpa memberikan dia kesempatan yang sama. Di satu sisi, aku juga ingin dia berkembang dan belajar, sehingga pikirannya menjadi lebih terbuka. Maka segera aku menimpali ketidaksetujuanku dengan berkata pada Nadya bahwa jika memang itu yang ingin dia lakukan, lakukanlah. Aku menerima segala keputusan yang dia ambil dan mendukung sepenuhnya, dan yang lebih penting, aku menerima segala konsekuensi yang muncul dari keputusannya itu. Hal itu aku lakukan semata-mata karena aku tahu bahwa aku benar-benar mencintainya.

Di luar hujan deras, dan Nadya belum juga kunjung pulang.

Hawa dingin mulai muncul disekitarku, membuat perut yang sedikit membuncit karena kurang olahraga ini semakin buncit karena terisi angin yang dibawa hujan petang ini.
Kuelus-elus perutku, sambil berulangkali kupencet tombol redial untuk mencoba mencari tahu keadaan Nadya saat ini. Yang ada hanya jawaban dari sebuah mesin yang mengatakan bahwa nomor yang aku tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Ponselnya mati.
Suatu hal yang di luar dari biasanya.

Ya, Nadya tidak pernah mematikan ponselnya. Paling Nadya hanya mengaktifkan profile silent pada ponselnya ketika dia tidur. Ponselnya tidak pernah mati. Kecuali jika kami sedang berada di gereja tentunya. Biasanya memang Nadya yang menghubungiku untuk memberikan kabar terakhirnya. Karena mungkin dia tahu, bahwa dialah yang lebih sering berpeluang untuk mempunyai pulsa dibandingkan aku.

Tapi akhir-akhir ini kebiasaan itu mulai berkurang. Nadya mulai jarang untuk menghubungiku terlebih dahulu. Yah, mungkin dia lelah. Mungkin dia terlalu lelah bekerja hingga kadang pun dia sering lupa akan hal-hal kecil tapi sentimentil. Hal-hal yang dulu jadi kebiasaan kami berdua ketika akan menyudahi pembicaraan di telepon, misalnya. Yah, mungkin dia lelah karena pekerjaan dan rutinitasnya yang melulu seperti itu. Semoga bukan lelah mencintaiku, karena aku pun tidak akan pernah lelah untuk selalu mencintainya dengan segala apa yang aku miliki.

Untung saja, akhir-akhir ini, peluangku untuk dapat menghubunginya terlebih dahulu membesar. Tapi kenapa justru ketika aku ingin menghubunginya sekarang, yang aku dengar hanyalah suara mesin.
Kuambil kembali ponselku dan kutekan nomor kantornya. Tidak ada jawaban. Sungguh sangat berbeda dengan tempatku bekerja sekarang yang hampir tidak akan pernah sepi dari manusia. Mungkin semua orang di kantornya sudah pulang.

Betapa teraturnya hidup mereka.

Bangun tidur, mandi, sarapan, gosok gigi, berangkat bekerja, makan siang, bekerja lagi, pulang ke rumah, mampir makan malam dalam perjalanan ke rumah, sampai di rumah, mandi, berangkat tidur, dan hari keramat bagi mereka adalah Sabtu dan Minggu, dimana mereka bisa merasakan nikmatnya bangun ketika matahari sudah meninggi. Indah di satu sisi, mematikan di sisi yang lain. Pernah ada seorang teman yang bercerita kepadaku, betapa dia ingin rasanya merasakan bangun pukul 7 di pagi hari dan pukul 8 dia sudah bisa berada di kantor. Betapa irinya dia atas pekerjaan yang aku lakukan, meskipun dia tahu bahwa pekerjaanku hanya menghasilkan setengah dari uang yang dia bawa pulang setiap bulannya. Dia bilang, betapa bahagianya aku bisa selalu merasa hidup dengan pekerjaan yang aku lakukan. Aku hanya tersenyum dan berkata bahwa masing-masing orang berhak untuk mempunyai pilihan dan hidup dengan pilihannya tersebut. Masalah bahagia atau tidak tergantung bagaimana menyikapinya. Selama manusia tidak pernah menyerah untuk berusaha, pasti akan selalu ada jalan baginya.

Kunyalakan lagi rokok kretekku yang mati karena terlalu lama kutinggal di atas asbak. Sekali lagi aku mencoba membuat panggilan, dan hanya nada panggil yang aku dengar dari seberang sana. Benar-benar sudah tidak ada orang di sana. Sudah tidak ada kehidupan terjadi di sana sampai Senin pukul 8 pagi.
Pikiranku kembali menjelajah, mencari tahu kemungkinan di mana Nadya berada saat ini. Mencoba menggambarkan keadaan di sana ketika hujan dan kira-kira apa yang akan dilakukan Nadya ketika berhadapan dengan hujan.

Di luar hujan deras, dan Nadya belum juga kunjung pulang.

Aku kembali teringat percakapan terakhirku dengan Nadya di telepon tadi siang. Sempat terucap dari bibirnya bahwa dia berniat untuk mencari sesuatu yang lebih dari pekerjaannya sekarang. Mungkin Nadya merasa bahwa apa yang dia terima saat ini tidak cukup untuk dirinya.

Aku hanya tersenyum sambil mengiyakan keinginannya itu. Karena setelahnya, aku teringat akan percakapanku dengan seorang teman di negeri seberang tentang apa itu puas dan bahagia. Bagi dia dan pasangannya, berbahaya kalau mendasarkan hubungan hanya berfokus pada yang terbaik. Mereka saling memilih satu dengan yang lain tidak atas dasar yang terbaik. Karena, terbaik itu relative dan unreachable, karena diatas yang baik akan selalu ada yang terbaik. Bagi dia, yang terbaik adalah berusaha menjalani apapun pilihannya, dan berusaha menikmatinya seumur hidup, karena untuk memperoleh yang terbaik, will never be completed till we die.

Nadya, andai saja kamu ada dan terlibat pembicaraan kami waktu itu, mungkin pikiranmu akan sedikit lebih terbuka, tentang bagaimana memaknai apa yang disebut hidup.

Nadya, I don’t want to spend the rest of my life, keep wondering what if…

Di luar hujan deras, dan Nadya belum juga kunjung pulang.

Nadya, kamu dimana?
Nadya, kenapa kamu belum juga kunjung pulang?

Lihat, sayur lodeh yang kau masak tadi pagi, sudah aku hangatkan kembali untukmu….